Bagi setiap jamaah yang melaksanakan ibadah Thawaf di Masjidil Haram, sudut tempat diletakkannya Hajar Aswad (sudut tenggara Ka'bah) adalah titik awal dan akhir perhitungan putaran. Batu hitam berbingkai perak ini tidak hanya menjadi simbol penting dalam ibadah, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan spiritual yang sangat tinggi dalam Islam.
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai sejarah Hajar Aswad dan kisah legendaris penempatannya oleh Rasulullah SAW dari Mumtaz Madaniah Utama.
Asal-usul Hajar Aswad: Batu dari Surga
Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda:
"Hajar Aswad turun dari surga dalam keadaan lebih putih daripada susu, lalu dosa-dosa manusia-lah yang membuatnya menjadi hitam." (HR. Tirmidzi)
Batu ini awalnya dibawa oleh Malaikat Jibril atas perintah Allah SWT untuk diserahkan kepada Nabi Ibrahim AS ketika beliau sedang membangun kembali Ka'bah bersama putranya, Nabi Ismail AS. Nabi Ibrahim meletakkan batu ini di sudut Ka'bah sebagai tanda dimulainya ibadah thawaf bagi umat manusia.
Kisah Kebijaksanaan Rasulullah SAW dalam Penempatan Kembali
Salah satu kisah paling monumental dalam sejarah Islam terjadi sebelum masa kenabian Muhammad SAW, tepatnya saat beliau berusia sekitar 35 tahun. Pada saat itu, banjir besar melanda kota Makkah dan merusak struktur Ka'bah. Suku-suku kaum Quraisy bergotong royong merenovasi bangunan suci tersebut.
Namun, ketika renovasi hampir selesai dan tiba saatnya meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempat asalnya, perselisihan hebat terjadi. Setiap kepala kabilah (suku) merasa paling berhak atas kehormatan meletakkan batu suci tersebut. Ketegangan meningkat hingga hampir memicu perang saudara di kalangan Quraisy.
Untuk mencegah pertumpahan darah, salah satu tetua adat, Abu Umayyah bin al-Mughirah, mengusulkan agar keputusan diserahkan kepada orang pertama yang memasuki pintu gerbang Masjidil Haram keesokan harinya. Atas kehendak Allah SWT, orang pertama yang masuk adalah Muhammad, yang kala itu sudah dikenal luas dengan julukan Al-Amin (Yang Terpercaya).
Dengan kebijaksanaan luar biasa, Muhammad SAW mengambil sebuah kain selendang. Beliau meletakkan Hajar Aswad di bagian tengah selendang tersebut, lalu meminta perwakilan dari setiap kabilah untuk memegang ujung-ujung selendang dan mengangkatnya bersama-sama.
Setelah selendang diangkat hingga setinggi posisi aslinya di dinding Ka'bah, Muhammad SAW mengambil batu tersebut dengan tangan beliau sendiri yang mulia lalu menempatkannya di sudut Ka'bah. Solusi damai dan adil ini meredakan ketegangan dan membuat semua kabilah merasa dihormati serta puas.
Makna Spiritual Hajar Aswad bagi Jamaah
Meskipun Hajar Aswad sangat dimuliakan, umat Islam tidak menyembah batu tersebut. Menghormati, menyentuh, atau mencium Hajar Aswad dilakukan semata-mata karena mengikuti sunnah (tuntunan) Rasulullah SAW.
Hal ini selaras dengan ucapan terkenal sahabat Umar bin Khattab RA saat mencium Hajar Aswad:
"Sesungguhnya aku tahu bahwa kamu hanyalah sebongkah batu yang tidak dapat memberi mudharat maupun manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah SAW menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu." (HR. Bukhari)


