Lewati ke konten utama
Kembali ke Artikel

Sejarah Hajar Aswad dan Kisah Penempatannya

8 Juli 2026Diposting oleh Tim Mumtaz
Sejarah Hajar Aswad dan Kisah Penempatannya

Bagi setiap jamaah yang melaksanakan ibadah Thawaf di Masjidil Haram, sudut tempat diletakkannya Hajar Aswad (sudut tenggara Ka'bah) adalah titik awal dan akhir perhitungan putaran. Batu hitam berbingkai perak ini tidak hanya menjadi simbol penting dalam ibadah, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan spiritual yang sangat tinggi dalam Islam.

Berikut adalah ulasan mendalam mengenai sejarah Hajar Aswad dan kisah legendaris penempatannya oleh Rasulullah SAW dari Mumtaz Madaniah Utama.


Asal-usul Hajar Aswad: Batu dari Surga

Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda:

"Hajar Aswad turun dari surga dalam keadaan lebih putih daripada susu, lalu dosa-dosa manusia-lah yang membuatnya menjadi hitam." (HR. Tirmidzi)

Batu ini awalnya dibawa oleh Malaikat Jibril atas perintah Allah SWT untuk diserahkan kepada Nabi Ibrahim AS ketika beliau sedang membangun kembali Ka'bah bersama putranya, Nabi Ismail AS. Nabi Ibrahim meletakkan batu ini di sudut Ka'bah sebagai tanda dimulainya ibadah thawaf bagi umat manusia.


Kisah Kebijaksanaan Rasulullah SAW dalam Penempatan Kembali

Salah satu kisah paling monumental dalam sejarah Islam terjadi sebelum masa kenabian Muhammad SAW, tepatnya saat beliau berusia sekitar 35 tahun. Pada saat itu, banjir besar melanda kota Makkah dan merusak struktur Ka'bah. Suku-suku kaum Quraisy bergotong royong merenovasi bangunan suci tersebut.

Namun, ketika renovasi hampir selesai dan tiba saatnya meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempat asalnya, perselisihan hebat terjadi. Setiap kepala kabilah (suku) merasa paling berhak atas kehormatan meletakkan batu suci tersebut. Ketegangan meningkat hingga hampir memicu perang saudara di kalangan Quraisy.

Untuk mencegah pertumpahan darah, salah satu tetua adat, Abu Umayyah bin al-Mughirah, mengusulkan agar keputusan diserahkan kepada orang pertama yang memasuki pintu gerbang Masjidil Haram keesokan harinya. Atas kehendak Allah SWT, orang pertama yang masuk adalah Muhammad, yang kala itu sudah dikenal luas dengan julukan Al-Amin (Yang Terpercaya).

Dengan kebijaksanaan luar biasa, Muhammad SAW mengambil sebuah kain selendang. Beliau meletakkan Hajar Aswad di bagian tengah selendang tersebut, lalu meminta perwakilan dari setiap kabilah untuk memegang ujung-ujung selendang dan mengangkatnya bersama-sama.

Setelah selendang diangkat hingga setinggi posisi aslinya di dinding Ka'bah, Muhammad SAW mengambil batu tersebut dengan tangan beliau sendiri yang mulia lalu menempatkannya di sudut Ka'bah. Solusi damai dan adil ini meredakan ketegangan dan membuat semua kabilah merasa dihormati serta puas.


Makna Spiritual Hajar Aswad bagi Jamaah

Meskipun Hajar Aswad sangat dimuliakan, umat Islam tidak menyembah batu tersebut. Menghormati, menyentuh, atau mencium Hajar Aswad dilakukan semata-mata karena mengikuti sunnah (tuntunan) Rasulullah SAW.

Hal ini selaras dengan ucapan terkenal sahabat Umar bin Khattab RA saat mencium Hajar Aswad:

"Sesungguhnya aku tahu bahwa kamu hanyalah sebongkah batu yang tidak dapat memberi mudharat maupun manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah SAW menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu." (HR. Bukhari)

Logo Mumtaz Madaniah Utama
Mumtaz MadaniahTour & Travel

Biro perjalanan umroh & haji berizin resmi Kemenag RI. Berkomitmen melayani jamaah dengan amanah dan profesional sejak 2018 untuk mencapai ibadah yang mabrur.

PPIU Resmi Kemenag RI

Lokasi Kami

Kantor Pusat Operasional

Pondok Duta 1, Jl. Duta 3 No.5, Kota Depok

+62 895-6000-00101

Kantor Pusat Administrasi

Jl Baru Irigasi Jakasetia, Bekasi Selatan

+62 895-1594-4943

Terhubung

Ikuti kami di media sosial untuk mendapatkan informasi terbaru seputar jadwal keberangkatan dan inspirasi ibadah.

© 2026 Mumtaz Madaniah Utama. All rights reserved.

Amanah Selalu Di HatiSK PPIU 02201013519080004